Kiat-Kiat Menuju Keluarga Sakinah

Saturday, July 7th 2012. | Keluarga Sakinah

Kiat-Kiat Menuju Keluarga Sakinah Adalah Hal Yang Harus Kita Ketahui Dan pahami Untuk Terciptanya Keluarga Yang Sakinah Mawadah Dan Warohmah,-

Kiat-Kiat Menuju Keluarga Sakinah | crystalxasia.comAgama Islam telah  memberikan petunjuk yang lengkap dan rinci terhadap persoalan  pernikahan. Mulai dari anjuran menikah, cara memilih pasangan yang  ideal, melakukan khitbah (peminangan), bagaimana mendidik anak, serta  memberikan jalan keluar jika terjadi kemelut dalam rumah tangga, sampai  dalam proses nafaqah (memberi nafkah) dan harta waris, semua diatur oleh  Islam secara rinci, detail dan gamblang.

Selanjutnya untuk  memahami konsep pernikahan dalam Islam, maka rujukan yang paling benar  dan sah adalah Al Qur’an dan As Sunnah Ash Shahihah yang sesuai dengan  pemahaman Salafush Shalih. Berdasar rujukan ini, kita akan memperoleh  kejelasan tentang aspek-aspek pernikahan, maupun beberapa penyimpangan  dan pergeseran nilai pernikahan yang terjadi di dalam masyarakat kita.

Pernikahan adalah fitrah  kemanusiaan. Maka dari itu Islam menganjurkannya, karena nikah merupakan  gharizah insaniyah (naluri kemanusiaan). Allah Ta’ala berfirman:

Maka   hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), (tetaplah atas)   fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi  kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar Ruum:30)

Kenapa Islam Menganjurkan Nikah.?

Penghargaan Islam terhadap ikatan pernikahan besar sekali, Allah menyebutkan sebagai ikatan yang kuat. Allah Ta’ala berfirman:

Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat.” (QS. An Nisaa’:21)

Sampai-sampai iaktan itu ditetapkan sebanding dengan separuh agama. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam telah bersabda:

Barangsiapa   menikah, maka ia telah melengkapi separuh dari agamanya. Dan hendaklah   ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi.” (HR.Ath Thabrani, Syaikh Albani menghasankannya)

Kenapa Islam Tidak Menyukai Membujang.?

Rasulullah   Shalallahu ‘Alaihi Wassalam memerintahkan untuk menikah dan melarang  keras orang yang tidak mau menikah. Anas bin Malik radhiallahu anhu  berkata: “Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam memerintahkan kami  untuk menikah dan melarang kami membujang dengan larangan yang keras.”  Beliau bersabda:

Nikahilah wanita yang subur dan penyayang. Karena aku akan berbangga dengan banyaknya umatku di hadapan umat-umat lain.” (HR. Abu Dawud, An Nasa-i, Al Hakim, Al Baihaqi dari Ma’qil bin Yasar dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani).

Pernah   suatu ketika, tiga orang sahabat radhiallahu anhum datang bertanya  kepada isteri-isteri Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam tentang  peribadahan beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam. Kemudian setelah  diterangkan, masing-masing ingin meningkatkan ibadah mereka. Salah  seorang dari mereka berkata: “Adapun saya, akan puasa sepanjang masa  tanpa putus”. Sahabat lain berkata:”Sedangkan saya akan menjauhi wanita,   saya tidak akan menikah selamanya…”. Ketika hal itu di dengar oleh Nabi  Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, beliau keluar seraya berkata:

Benarkah   kalian telah berkata begini dan begitu?Sungguh demi Allah, sesunguhnya   akulah yang paling takut dan taqwa kepada Allah diantara kalian, akan tetapi aku berpuasa dan aku berbuka, aku shalat dan aku juga tidur dan aku juga menikahi wanita. Maka barangsiapa yang tidak menyukai sunnahku,  maka ia tidak termasuk golonganku.” (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, AN Nasa-i dan Al Baihaqi dari sahabat Anas bin Malik)

Allah   memerintahkan untuk menikah. Dan seandainya mereka fakir, niscaya Allah  Ta’ala akan membantu dengan memberikan rezeki kepada mereka. Allah  menjanjikan suatu pertolongan kepada orang yang menikah, dalam  firmanNya:

Dan  nikahkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu dan orang-orang  yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan  wanita. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan  karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. An Nuur:32)

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam menguatkan janji Allah itu dengan sabdanya:

Ada   tiga golongan manusia yang berhak mendapat pertolongan Allah. Yaitu,  mujahid fi sabilillah, budak yang menebus dirinya supaya merdeka, dan  orang yang menkah karena ingin memelihara kehormatannya.” (HR. Ahmad, An Nasa-i, At Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al Hakim, dari sahabat Abu Hurairah. Hadits ini hasan)

Tujuan Pernikahan Dalam Islam

1. Pernikahan Untuk Memenuhi Tuntutan Naluri Manusia Yang Asasi

Pernikahan   adalah fitrah manusia. Dan jalan yang sah untuk memenuhi kebutuhan ini   adalah dengan akad nikah (melalui jenjang pernikahan), bukan dengan cara  yang kotor dan menjijikkan, seperti cara-cara orang sekarang ini dengan  berpacaran, kumpul kebo, melacur, berzina, lesbi, homo dan lain sebagainya yang telah menyimpang dan diharamkan oleh Islam.

2. Pernikahan Untuk Membentengi Akhlak Yang Mulia

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:

Wahai,   para pemuda! Barangsiapa diantara kalian berkemampuan untuk menikah,  maka nikahlah, karena nikah itu lebih menundukkan pandangan dan lebih  membentengi farji (kemaluan). Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka  hendaklah ia puasa, karena puasa itu dapat membentengi dirinya.” (HR. Ahmad, Bukhari, Muslim, At Tirmidzi, An Nasa-i, Ad Darimi dan AL Baihaqi, dari sahabat Abdullah bin Mas’ud)

3. Pernikahan Untuk Menegakkan Rumah Tangga Yang Islami

Dalam Al  Qur’an disebutkan, bahwa Islam membenarkan adanya thalaq (perceraian),  jika suami isteri sudah tidak sanggup lagi menegakkan batas-batas Allah,  sebagaimana firman Allah dalam ayat berikut:

Thalaq   (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan  cara ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik. Tidak halal bagi  kamu mengambil kembali dari sesuatu yang telah kamu berikan kepada  mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan  hukum-hukum Allah. Jika kamu khawatir keduanya (suami isteri) tidak  dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya  tentang pembayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya.  Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah, mereka itulah orang-orang yang  zhalim.” (QS. Al Baqarah:229)

Jadi  tujuan yang luhur dari pernikahan adalah agar suami isteri melaksanakan  syari’at Islam dalam rumah tangganya. Hukum ditegakkannya rumah tangga  berdasarkan syari’at Islam adalah wajib. Oleh karena itu, setiap muslim dan muslimah harus berusaha membina rumah tangga yang Islami. Ajaran  Islam telah memberikan beberapa kriteria tentang calon pasangan yang  ideal, agar terbentuk rumah tangga yang Islami. Di antara kriteria itu  adalah harus kafa’ah dan shalihah.

Kafa’ah Menurut Konsep Islam

Kafa’ah   (setaraf, sederajat) menurut Islam hanya diukur dengan kualitas iman dan  taqwa serta akhlaq seseorang, bukan diukur dengan status social,  keturunan dan barometer duniawi lainnya.

“Hai manusia,  sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang  wanita dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu  saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara  kamu di sisi Allah ialah orang-orang yang paling bertaqwa
diantara kamu.  Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
(QS. Al Hujurat:13)

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:

Seorang   wanita dinikahi karena empat hal. Karena hartanya, keturunannya,  kecantikannya, dan agamanya. Maka hendaklah kamu pilih wanita yang taat agamanya (ke-Islamannya). niscaya kamu akan beruntung.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, An Nasa-i, Ibnu Majah, Ahmad, dari sahabat Abu Hurairah)

Tips Cara Memilih Pasangan Hidup

Memilih Pasangan Hidup Yang Shalihah

Orang   yang hendak menikah, harus memilih wanita yang shalihah, demikian pula   wanita harus memilih laki-laki yang shalih. Allah berfirman:

Wanita-wanita   yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah  buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik untuk  laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk wanita-wanita yang  baik pula.” (QS. An Nuur:26)

Menurut Al Qur’an, wanita yang shalihah adalah:

Wanita yang  shalihah ialah yang ta’at kepada Allah lagi memelihara diri bila suami  tidak ada, sebagaimana Allah telah memelihara (mereka).” (QS. An Nisa’:34)

Diantara Ciri-Ciri Wanita Yang Shalihah Menurut Al Qur’an Dan Al Hadits Yang Shahih Adalah :

  • Ta’at kepada Allah dan ta’at kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam
  • Ta’at kepada suami dan menjaga kehormatannya di saat suami ada atau tidak ada, serta menjaga harta suaminya.
  • Menjaga shalat yang lima waktu tepat pada waktunya.
  • Melaksanakan puasa pada bulan Ramadhan.
  • Banyak shadaqah dengan seizing suaminya.
  • Memakai jilbab yang menutup  seluruh auratnya dan tidak untuk pamer kecantikan (tabarruj) seperti  wanita jahiliyah (QS. Al Ahzab:33).
  • Tidak berbincang-bincang dan berdua-duaan dengan laki-laki yang bukan mahramnya, karena yang ketiganya adalah syaitan.
  • Tidak menerima tamu yang tidak disukai oleh suaminya.
  • Ta’at kepada kedua orang tua dalam kebaikan.
  • Berbuat baik kepada tetangganya sesuai dengan syari’at.
  • Mendidik anak-anaknya dengan pendidikan Islami.

Bila kriteria ini dipenuhi, insya Allah rumah tangga yang Islami akan terwujud.

4. Pernikahan Untuk Meningkatkan Ibadah kepada Allah.

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:

Dan   dalam hubungan suami isteri salah seorang diantara kalian adalah  sedekah (Mendengar sabda Rasulullah), para sahabat keheranan dan  bertanya: ‘Wahai Rasulullah. Apakah salah seorang dari kita memuaskan  syahwatnya (kebutuhan biologisnya terhadap isterinya) akan mendapat  pahala?’ Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam menjawab: ‘Bagaimana menurut  kalian, jika mereka (para suami) bersetubuh dengan selian isterinya,  bukankah mereka berdosa?’ Jawab para sahabat:’Ya, benar’. Beliau  bersabda lagi:’Begitu pula kalau mereka bersetubuh dengan isterinya  (ditempat yg halal), mereka akan memperoleh pahala.’” (HR. Muslim, Ahmad, Ibnu Hibban, dari sahabat Abu Dzar)

5. Penikahan Untuk Memperoleh Keturunan Yang Shalih

Tujuan pernikahan diantaranya ialah untuk melestarikan dan mengembangkan Bani Adam sebagaimana firman Allah Ta’ala:

Allah telah  menjadikan dari diri-diri kamu itu pasangan suami isteri dan menjadikan  bagimu dari isteri-isteri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan  memberimu rezeki yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada  yang bathil dan mengingkari nikmat Allah?” (QS. An Nahl:72)

Yang   terpenting lagi dalam pernikahan bukan hanya sekedar memperoleh anak, tetapi berusaha mencari dan membentuk generasi yang berkualitas, yaitu mencari anak yang shalih dan bertaqwa kepada Allah. Sebagaimana firman Allah:

Dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untuk kalian (yaitu anak).’ (QS. Al Baqarah:187).

Yang dimaksud dengan ayat ini, “Hendaklah kalian mencampuri isteri kalian dan berusaha untuk memperoleh anak.”

Tata Cara Pernikahan Dalam Islam

1. Khitbah (Peminangan)

Seorang   muslim yang akan menikahi seorang muslimah, hendaklah ia meminang  terlebih dahulu, karena dimungkinkan ia sedang dipinang oleh oarng lain.   Dalam hal ini Islam melarang seorang muslim meminang wanita yang sedang  dipinang oleh orang lain.

2. Aqad Nikah

Dalam aqad nikah ada beberapa syarat, rukun dan kewajiban yang harus dipenuhi:

  • Adanya suka sama suka dari kedua calon mempelai.
  • Adanya ijab qabul.
  • Adanya mahar.
  • Adanya wali
  • Adanya saksi-saksi.

3. Walimah

Walimatul   ‘urusy (pesta pernikahan) hukumnya wajib dan diusahakan sesederhana  mungkin dan dalam walimah hendaklah diundang pula orang-orang miskin.  Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:

Selenggarakanlah walimah meskipun hanya dengan menyembelih seekor kambing.” (HR.Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At Tirmidzi, An Nasa-i, Ad Darimi, Ahmad, dari sahabat Anas bin Malik)

Sebagian Pelanggaran Yang Terjadi Dalam Pernikahan Yang Wajib Dihindarkan (Dihilangkan) Menurut Islam

  • Pacaran.
  • Tukar cincin.
  • Menuntut mahar yg tinggi.
  • Mengikuti upacara adat.
  • Mencukur jenggot bagi laki-laki dan mencukur alis mata bagi wanita.
  • Kepercayaan terhadap hari baik dan sial dalam menentukan waktu pernikahan
  • Mengucapkan ucapan selamat ala kaum jahiliyah.
  • Adanya ikhtilath (bercampur-baurnya antara laki-laki dan perempuan).
  • Musik, nyanyi dan pelanggaran-pelanggaran lainnya.

Marilah   kita berupaya untuk melaksanakan pernikahan dan membina rumah tangga  dengan cara yang Islami, serta berusaha meninggalkan aturan, tata-cara, upacara dan adat istiadat yang bertentangan dengan Islam. Jangan meniru   cara-cara orang-orang kafir dan orang-orang yang banyak berbuat dosa dan  maksiat.

Hak Dan Kewajiban Suami Isteri

Anjuran   Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam untuk menikah mengandung berbagai  manfaat, sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama, diantaranya:

  • Dapat menundukkan pandangan.
  • Akan terjaga kehormatan
  • Terpelihara kemaluan dari beragam maksiat.
  • Akan ditolong dan dimudahkan oleh Allah.
  • Dapat menjaga syahwat, yang merupakan salah satu sebab dijaminnya ia untuk masuk ke dalam surga.
  • Mendatangkan ketenangan dalam hidup.
  • Akan terwujud keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah, sebagaimana firman Allah:

Dan diantara  tanda-tanda kekuasaan Allah, ialah Dia menciptakan untukmu  isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa  tentram kepadanya. Dan dijadikan-Nya diantara kamu rasa kasih dan  saying. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat  tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar Rumm:21)

  • Akan mendapatkan keturunan yang shalih.
  • Menikah dapat menjadi sebab peningkatan jumlah ummat Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam.

Ada   sebagian kaum muslimin yang telah menikah dan dikaruniai oleh Allah  seorang anak atau dua orang anak, kemudian mereka membatasi kelahiran,  tidak mau mempunyai anak lagi dengan berbagai alasan yang tidak syar’i. Perbuatan mereka telah melanggar syari’at Islam. Fatwa-fatwa ulama Ahlus  Sunnah Wal Jama’ah telah menjelaskan dengan tegas, bahwa membatasi  kelahiran atau dengan istilah lainnya “keluarga berencana”, hukumnya  adalah haram.

Sesungguhnya banyak anak itu banyak manfaatnya

Dianatara manfaaat dengan banyaknya anak dan keturunan, adalah:

  • Di Dunia mereka akan saling menolong dalam kebajikan.
  • Mereka akan membantu meringankan beban orang tuanya.
  • Do’a mereka akan menjadi amal yang bermanfaat ketika orang tuanya sudah tidak lagi beramal (telah meninggal dunia).
  • Jika ditaqdirkan oleh Allah anaknya meninggal ketika masih kecil, insya  Allah ia akan menjadi syafa’at (penolong) bagi orang tuanya nanti di  akhirat.
  • Anak akan menjadi hijab (pemelihara) dirinya dengan api neraka,  manakala orang tuanya mampu menjadikan anak-anaknya sebagai anak yang  shalih dan shalihah.
  • Dengan banyaknya anak, akan menjadikan salah satu sebab bagi kemenangan  kaum muslimin ketika dikumandangkan jihad fi sabilillah, karena jumlah  yang sangat banyak.
  • Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bangga dengan jumlah umatnya  yang banyak. Apabila seorang muslim cinta kepada Rasulullah Shalallahu  ‘Alaihi Wassalam, maka hendaklah ia mengikuti keinginan Rasulullah  Shalallahu ‘Alaihi Wassalam untuk memperbanyak anak, karena Beliau  Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bangga dengan tingginya kuantitas umatnya  pada hari kiamat.

Apa Yang Harus Dilakukan Bila Belum Dikaruniai Anak

Apabila   ditaqdirkan Allah sepasang suami isteri sudah menikah sekian lama, namun  belum juga dikaruniai anak, maka janganlah dia berputus asa dari rahmat  Allah. Hendaklah dia terus berdo’a sebagaimana Nabi Ibrahim dan Zakaria  ‘Alaihis Salam telah berdoa kepada Allah, sampai Allah mengabulkan do’a  mereka. Dan hendaknya bersabar dan ridho dengan qadha’ dan qadar yang  Allah tentukan, serta meyakini bahwa semua itu ada hikmahnya.

Do’a mohon dikaruniai keturunan yang baik dan shalih terdapat dalam Al Qur’an, yaitu:

Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih.” (QS. Ash Shaafat:100).

Ya Rabb  kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami  sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang  yang bertaqwa.” (QS. Al Furqan:74).

Ya Rabbku, janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah waris yang paling baik.” (QS. Al Anbiyaa:89).

Mudah-mudahan Allah memberikan keturunan yang shalih kepada pasangan suami isteri yang belum dikaruniai anak.

Hak Isteri Yang Harus Dipenuhi Suami

Diantara   kewajiban dan hak tersebut adalah seperti yang tercantum dalam sabda  Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dari sahabat Muawiyah bin Haidah bin  Mu’awiyah bin Ka’ab Al Qusyairy radhiallahu anhu, ia berkata: Saya telah   bertanya, “Ya Rasulullah, apa hak seorang isteri yang harus dipenuhi  oleh suaminya?” Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam menjawab:

1. Engkau memberinya makan apabila engkau makan.

2. Engkau memberinya pakaian apabila engkau berpakaian.

3. Janganlah engkau memukul wajahnya,dan

4. Janganlah engkau menjelek-jelekannya, dan

5. Janganlah engkau tinggalkan dia meliankan di dalam rumah (jangan berpisah tempat tidur melainkan di dalam rumah).

(HR.Abu   Dawud, Ibnu Majah, Ahmad, Ibnu Hibban, Al Baihaqi, Al Baghawi, An  Nasa-i. Hadits ini dishahihkan oleh Al Hakim, Adz Dzahabi dan Ibnu  Hibban)

Suami Wajib Mengajarkan Ilmu Agama Kepada Istrinya

Di  samping hak diatas harus dipenuhi oleh seorang suami, seorang suami juga   wajib mengajarkan ajaran Islam kepada isterinya. Allah Ta’ala  berfirman:

Hai  orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api  neraka yang bahan bakarnya (terbuat dari) manusia dan batu, penjaganya  adalah malaikat-malaikat yang kasar lagi keras, yang tidak mendurhakai  (perintah) Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan  selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At Tahrim:6)

Untuk   itulah, kewajiban sang suami untuk membekali dirinya dengan menuntut  ilmu syar’i (thalabul ‘ilmi) dengan menghadiri majelis-majelis ilmu yang   mengajarkan Al Qur’an dan As Sunnah sesuai dengan pemahaman Salafush  Shalih-generasi terbaik,yang mendapat jaminan dari Allah-sehingga dengan   bekal tersebut, seorang suami mampu mengajarkannya kepada isteri, anak   dan keluarganya. Jika ia tidak sanggup mengajarkan mereka, seorang suami  harus mengajak isterinya menuntut ilmu syar’i dan menghadiri  majelis-majelis taklim yang mengajarkan tentang aqidah, tauhid  mengikhlaskan agama kepada Allah, dan mengajarkan tentang bersuci,  berwudhu’, shalat, adab dan lainnya.

Hak Suami Yang Harus Dipenuhi Isteri

Ketaatan Istri Kepada Suaminya

Setelah   wali (orang tua) sang isteri menyerahkan kepada suaminya, maka kewajiban  taat kepada sang suami menjadi hak yang tertinggi yang harus dipenuhi,  setelah kewajiban taatnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Sebagaimana sabda  Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam:

Kalau   seandainya aku boleh menyuruh seorang sujud kepada seseorang, maka aku   akan perintahkan seorang wanita sujud kepada suaminya.” (HR.   Tirmidzi, Ibnu Hibban, Al Baihaqi, dari sahabat Abu Hurairah. Ini  lafazh milik Tirmidzi, ia berkata,’Hadits ini hasan shahih’)

Sang   isteri harus taat kepada suaminya, dalam hal-hal yang ma’ruf (mengandung  kebaikan dalam hal agama), misalnya ketika diperintahkan untuk shalat,  berpuasa, mengenakan busana muslimah, menghadiri majelis ilmu, dan  bentuk-bentuk perintah lainnya sepanjang tidak bertentangan dengan  syari’at. Hal inilah yang justru akan mendatangkan surga bagi dirinya,  sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam:

Apabila   seorang wanita mengerjakan shalat yang lima waktu, berpuasa di bulan  Ramadhan, menjaga kemaluannya, menjaga kehormatannya dan dia taat kepada   suaminya, niscaya ia akan masuk surga dari pintu surga mana saja yang dia kehendaki.” (HR. Ibnu Hibban, dari sahabat Abu Hurairah. Hadits ini hasan shahih)

Isteri Harus Banyak Bersyukur Dan Tidak Banyak Menuntut

Perintah   ini sangat ditekankan dalam Islam, bahkan Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat, manakala sang isteri benyak menuntut kepada suaminya dan tidak bersyukur kepadanya. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam  bersabda:

Sesungguhnya  aku diperlihatkan neraka dan melihat kebanyakan penghuninya adalah  wanita.” Sahabat bertanya: “Sebab apa yang menjadikan mereka paling  banyak menghuni neraka?” Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam  menjawab: “Dengan sebab kufur”. Sahabat bertanya:”Apakah dengan sebab  mereka kufur kepada Allah?” Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam  menjawab:”(Tidak), mereka kufur kepada suaminya dan mereka kufur kepada  kebaikan. Seandainya seorang suami dari kalian berbuat kebaikan kepada  isterinya selama setahun, kemudian isterinya melihat sesuatu yang jelek  pada diri suaminya, maka dia mengatakan ‘Aku tidak pernah melihat  kebaikan pada dirimu’.” (HR. Bukhari dan Muslim, Abu  ‘Awanah, Malik, An Nasa-i serta Al Baihaqi, dari sahabat Ibnu ‘Abbas dan  diriwayatkan pula dari beberapa sahabat).

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:

Sesungguhnya   Allah tidak akan melihat kepada seorang wanita yang tidak bersyukur  kepada suaminya dan dia selalu menuntut (tidak pernah merasa cukup).” (HR.   AN Nasa-i, Al Hakim, Al Baihaqi dari sahabat Abdullah bin Amr. Al Hakim  berkata,’Hadits ini sanadnya shahih,’ dan disepakati oleh Imam Adz  Dzahabi)

Isteri Wajib Berbuat Baik Kepada Suaminya

Perbuatan   ihsan (baik) seorang suami harus dibalas pula dengan perbuatan yang  serupa atau yang lebih baik. Isteri harus berkhidmat kepada suaminya dan   menunaikan amanah mengurus anak-anaknya menurut syari’at Islam yang  mulia. Allah telah mewajibkan kepada dirinya untuk mengurus suaminya,  mengurus rumah tangganya, mengurus anak-anaknya.

Nasehat Untuk Suami Isteri

  • Bertakwa kepada Allah dalam keadaan bersama maupun sendiri, di rumahnya maupun di luar rumahnya.
  • Wajib menegakkan ketaatan kepada Allah dan menjaga batas-batas Allah di dalam keluarga.
  • Melaksanakan kewajiban terhadap Allah dan minta tolong kepada Allah.  Laki-laki wajib mengerjakan shalat lima waktu di masjid secara  berjama’ah. Dan perintahkan anak-anak untuk shalat pada waktunya.
  • Menegakkan shalat-shalat sunnah, terutama shalat malam.
  •  Perbanyak berdzikir kepada Allah. Bacalah Al Qur’an setiap hari,  terutama surat Al Baqarah. Bacalah pula do’a dan dzikir yang telah  diajarkan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam. Ingatlah, bahwa  syaitan tidak senang kepada keutuhan rumah tangga dan syaitan selalu  berusaha mencerai-beraikan suami isteri. Dan ajarkan anak-anak untuk  membaca Al Qur’an dan dzikir.
  • Bersabar atas musibah yang menimpa dan bersyukur kepada Allah atas segala nikmat-Nya.
  • Terus menerus berintrospeksi antara suami isteri. Saling menasehati,  tolong menolong dan memaafkan serta mendo’akan. Jangan egois dan gengsi.
  • Berbakti kepada kedua orang tua.
  • Mendidik anak agar menjadi anak-anak yang shalih, ajarkan tentang aqidah, ibadah dan akhlak yang benar dan mulia.
  • Jagalah anak-anak dari media yang merusak aqidah dan akhlak.

Nasihat Khusus Untuk Suami

Wahai Para Suami!!

  • Apa yang  memberatkanmu-wahai hamba Allah-untuk tersenyum di hadapan isterimu  ketika engkau masuk menemuinya, agar engkau memperoleh ganjaran dari  Allah.
  • Apa yang membebanimu untuk bermuka cerah ketika engkau melihat isteri dan anak-anakmu? Engkau akan mendapat pahala.
  • Apa sulitnya jika engkau  masuk ke rumah sambil mengucapkan salam secara sempurna:  “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh” agar engkau memperoleh  tiga puluh kebaikan.?
  • Apa yang kira-kira akan   menimpamu jika engkau berkata kepada isterimu dengan perkataan yang  baik, sehingga ia meridhaimu, sekalipun dalam perkataanmu tersebut agak sedikit dipaksakan?
  • Apakah yang  menyusahkanmu-wahai hamba Allah-jika engkau berdo’a: “Ya Allah!  Perbaikilah isteriku, dan curahkan keberkahan padanya.”
  • Tahukah engkau bahwa ucapan yang lembut merupakan shadaqah?.

Nasihat Khusus Untuk Isteri

Wahai Para Isteri

  • Apakah yang menyulitkanmu, jika engkau menemui suami ketika dia masuk ke rumahmu dengan wajah yang cerah sambil tersenyum manis?
  • Berhiaslah untuk suamimu  dan raihlah pahala di sisi Allah, sesungguhnya Allah itu indah dan  menyukai keindahan, gunakanlah wangi-wangian! Bercelaklah! Berpakaianlah  dengan busana terindah yang kau miliki untuk menyambut kedatangan  suamimu. Ingat, janganlah sekali-kali engkau bermuka muram dan cemberut  di hadapannya.
  • Jadilah engkau seorang isteri yang memiliki sifat lapang dada, tenang dan selalu ingat kepada Allah dalam segala keadaan.
  • Didiklah anak-anakmu dengan  baik, penuhilah rumahmu dengan tasbih, takbir, tahmid dan tahlil serta  perbanyaklah membaca Al Qur’an, khususnya surat Al Baqarah, karena surat  tersebut dapat mengusir syaitan.
  • Bangunkanlah suamimu untuk  mengerjakan shalat malam, anjurkanlah dia untuk berpuasa sunnah dan  ingatkanlah dia kembali tentang keutamaan berinfak, serta janganlah  melarangnya untuk bersilaturahim.
  • Perbanyaklah istighfar  untuk dirimu, suamimu, orang tuamu, dan semua kaum muslimin, dan  berdoalah selalu agar diberikan keturunan yang shalih dan memperoleh  kebaikkan dunia dan akhirat, dan ketahuilah bahwasanya Rabb-mu Maha  Mendengar do’a. Sebagimana firman Allah:

“Dan Rabb kalian berfirman:’Berdo’alah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan untuk kalian’.” (QS.Al Mu’min:60)

Kepemimpinan Laki-Laki Atas Wanita

Allah Ta’ala berfirman:

Kaum   laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah  melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain  (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari  harta mereka. Sebab itu, maka wanita yang shalih ialah yang ta’at kepada  Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah  telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan  nusyuznya, maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat  tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menta’atimu,  maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya.  Sesungguhnya Allah Maha Tinggi dan Maha Besar.” (QS. An Nisa’:43)

Kewajiban Mendidik Anak

Sang   suami sebagai kepala rumah tangga haruslah memberikan teladan yang baik  dalam mengemban tanggung jawabnya, karena Allah akan mempertanyakannya  di hari akhir kelak. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:

Kamu  sekalian adalah pemimpin, dan kamu sekalian bertanggungjawab atas orang  yang dipimpinnya. Seorang Amir (Raja) adalah pemimpin, laki-laki pun  pemimpin atas keluarganya, dan perempuan juga pemimpin bagi rumah  suaminya dan anak-anaknya, ingatlah bahwa kamu sekalian adalah pemimpin  dan kamu sekalian akan dimintai pertanggungjawabannya atas  kepemimpinannya.” (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad dari shabat Ibnu Umar)

Seorang   suami harus berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menjadi suami yang  shalih, dengan mengkaji ilmu-ilmu agama, memahaminya serta melaksanakan dan mengamalkan apa-apa yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya  Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, serta menjauhkan diri dari setiap yang  dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya Shalallahu ‘Alaihi Wassalam. Kemudian dia mengajak dan membimbing sang isteri untuk berbuat demikian juga,  sehingga anak-anaknya akan meneladani kedua orang tuanya, karena tabi’at   anak memang cenderung untuk meniru apa-apa yang ada di sekitarnya.

Cara Mendidik Anak

  • Mendidik anak dengan cara-cara yang baik dan sabar, agar mereka  mengenal dan mencintai Allah, yang menciptakannya dan seluruh alam  semesta, mengenal dan mencintai Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, yang pada diri beliau terdapat suri tauladan yang mulia, serta agar  mereka mengenal dan memahami Islam untuk diamalkan.
  • Pada usia dini (sekitar 2-3 tahun), kita ajarkan kepada mereka  kalimat-kalimat yang baik serta bacaan Al Qur’an, sebagaimana yang  dicontohkan oleh para sahabat dan generasi tabi’in dan tabi’ut tabi’in,  sehingga banyak dari mereka yang sudah hafal Al Qur’an pada usia sangat  belia.
  • Perhatian terhadap shalat juga harus menjadi prioritas utama bagi orang tua kepada anaknya.
  • Perhatian orang tua terhadap anaknya juga dalam hal akhlaqnya, dan yang  harus menjadi penekanan utama adalah akhlaq (berbakti) kepada orang  tua.
  • Juga perlu diperhatikan teman pergaulan anaknya, karena sangat bisa  jadi pengaruh jelek temannya akan berimbas pada perilaku dan akhlaq  anaknya.
  • Disamping ikhtiar yang dilakukan untuk menjadikan isterinya menjadi  isteri yang shalihah, hendaknya sang suami juga memanjatkan do’a kepada  Allah pada waktu-waktu yang mustajab, seperti sepertiga malam terakhir,  agar keluarganya dijadikan keluarga yang shalih, dan rumah tangganya  diberikan sakinah, mawaddah wa rahmah, seperti do’a yang tercantum dalam  Al Qur’an:

“Dan   orang-orang yang berdo’a:’Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami,  isteri-isteri kami, keturunan-keturunan kami sebagai penyenang hati kami   dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Furqan:74)

Paling tidak, seorang  suami hendaknya bisa menjadi teladan dalam keluarganya,    dihormati  oleh sang isteri dan anak-anaknya, kemudian mereka menjadi hamba-hamba  Allah yang shalih dan shalihah, bertakwa kepada Allah.

Inilah  kiat-kiat yang hendaknya semorang muslim dan muslimah lakukan untuk  mewujudkan keluarga sakinah. Wallahu a’lam bish shawab.

Maraji’:

  1. ‘Isyratun Nisaa’, Imam Abu Abdirrahman Ahmad bin Syu’aib bin ‘Ali An  Nasa-i, tahqiq dan ta’liq ‘Amir Ali Umar, Cet. Maktabah As Sunnah,  Kairo, Th. 1408H.
  2. Adabuz Zifaf Fis Sunnah Al Muthahharah, ta’lif (karya) Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, Cet. Daarus Salam,. Th.1423H.
  3.  Irwaa-ul Ghalil Fii Takhriji Ahaadits Manaaris Sabil, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, Cet. Al Maktab Al Islami.
  4. Al Insyirah Fii Adaabin Nikah, ta’lif Abu Ishaq Al Huwaini Al Atsari, Cet. II, Darul Kitab Al ‘Arabi, Th.1408H.
  5. Fiqhut Ta’aamul Baina Az Zaujaini Wa Qabasat Min Baitin Nubuwwah,  ta’lif Syaikh Abu Abdillah Mushthafa bin Al ‘Adawi, Cet. I, Darul Qasim,   1417H.
  6. Tuhfatul ‘Arus, Syaikh Mahmud Mahdi Al Istambuli.
  7. Adaabul Khitbah Wa Zifaaf Fis Sunnah Al Muthahharah, ta’lif ‘Amr Abdul Mun’im Salim, Cet. I, Daarudh Dhiyaa’, Th. 1421H.

Dikutip dari Majalah As Sunnah Edisi Khusus/VIII/1425H/2004M

Powerd by : Kiat-Kiat Menuju Keluarga Sakinah

tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,